It’s Jess! It’s Zooey
Hey blog, It’s been a while since the last time I had my words written down, right? Sekarang gw berencana nulis lagi. Mungkin akan lebih sering dari biasanya. Karena sekarang ini gw udah mulai balik kuliah, dan untuk keperluan kuliah gw, gw juga harus nge-blog.
Intermezzo: gw teringat beberapa cerpen yang belum gw selesain. Kayak “Mata Giok”. Hehehe…
By the way, gw sekarang lagi tertarik nih sama salah satu artis Hollywood berbakat yang main di Serial televisi “New Girl”, siapa lagi kalau bukan Zooey Deschanel (Entah gimana cara melafalkan namanya yang aneh itu). Selain kemiripannya dengan Katy Perry, artis yang sering disalah sangka sebagai pelantun lagu California Girls ini, juga memiliki kemampuan menyanyi loh. Dia bahkan juga bisa memainkan beberapa alat musik. Jadi kemampuan bermusikanya pun ga kalah jauh sama mantan istri Russel Brand itu.

Walaupun mirip dengan Katy Perry atau Emily Blunt gw lebih prefer sama Zooey, bukannya karena apa. Tapi karena sikap humble dan polosnya sebagai pemeran Jess di serial TV itu bikin gw jatuh hati sama dia. Apalagi kata orang-orang Zooey adalah pribadi periang dan rendah hati yang tak jauh beda dengan karakter yang diperankannya, tapi tentu saja tidak sebodoh dan sepolos Jess.
Sebenarnya awal gw tahu tentang Zooey beberapa tahun sebelum dia berperan sebagai Jess. Saat itu Zooey berperan sebagai salah satu cewek nyentrik yang bernama Allison dengan kebiasaan mengendarai scootermatic putih dan berpasangan dengan Jim Carrey dalam film Yes Man. Waktu lihat film itu, gw langsung gigit jari dengan mata terbelalak, sambil sedikit geleng-geleng ga percaya. “Katy Perry main film?” kata gw waktu itu. Dan setelah browsing internet, barulah gw tahu cewek yang mirip banget dengan Katy Perru ini ternyata bernama Zooey Deschanel (tetap nama yang aneh..)
Gw langsung, langsung teratarik, langsung browsing semua tentang dia. Agak sedikit gregetan juga sih lihat dia, soalnya dia itu kayak versi “cute”-nya Katy Perry (gitu).
Dan yang bikin gw paling kaget adalah ternyata ada beberapa lagi artis Hollywood lainnya yang mirip sama mereka berdua. “Sepertinya ada teori konspirasi yang menarik dibalik kebetulan ini.” Hehehe.. ga lah. Tapi mungkin aja, who knows?

Tuhan berbicara pada Ambon
Tuhan berbicara dengan beberapa cara pada manusia, salah satunya melalui alam. Beberapa pekan lalu, Kota Ambon dilanda bencana alam yang cukup meninggalkan bekas pada masyarakat Ambon. Hujan yang turun terus-menerus selama beberapa hari mengakibatkan banjir dan tanah longsor yang cukup parah di sana. Akibatnya ratusan keluarga terpaksa mengungsi dan beberapa orang dinyatakan meninggal dalam bencana tersebut.
Saya tiba di Ambon satu minggu yang lalu, dan langsung penasaran dengan perubahan apa saja yang terjadi paska bencana alam kemarin. Dan hal pertama yang bisa saya lihat adalah bahwa kali-kali (sungai) yang biasa saya lihat dipenuhi dengan sampah, sudah jauh lebih bersih dari sebelumnya. Masyarakat sudah lebih sadar untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan pengairan.
Saya cukup senang dengan hal tersebut, walaupun bencana alam membawa petaka yang mendalam pada masyarakt Ambon. Tetapi dengan hal tersebut, masyarakat akhirnya sadar bahwa Tuhan sedang menegur mereka untuk lebih menghargai alam disekitarnya.
I Don’t Know What To Say
Hey blog, sebenarnya sekarang ini rasanya campur aduk banget. But finally I did it. I just end up with her. Gw sebenarnya juga ga mau tulis hal ini di blog gw, tapi I don't care then, soalnya siapa sih yang baca blog ini. And now I'm on my own again. Ada sakit, tapi akhirnya lega juga itu terjadi, tapi emang sakit banget. SERIUS!!!
Gw mesti lupain semua tentang dia. She was my past, and move on. Mungkin ini juga alasannya kenapa gw mesti ke Ambon. Sebelumnya semua blur. Gw kelihatan kayak pemuda labil yang ga tau arah melangkah, gw ga tau kenapa gw harus ke Ambon sementara hal itu sebenarnya unnecessary dan akhirnya tanpa tujuan yang jelas, I made it to Ambon, I met her, and I found that it is my reason to be here to tell her to breaking up. I don't have a chance to explain to her why did I do that, But it seems like she understand very much of it. I know it's hurt to both of us, but I know it is the best for us.
Blog, sebenarnya that finger cross has become a heart cross but this is the best way to keep my heart still. I'm not mature enough to be a men. I still me, smartass, lazy and stubborn, so how can I be hers when I can't be a men? She is far away upon me, and that's not cool if I being kind of burden to her.
I don't know. Sebaiknya gw tenang dan belajar dari ini semua. Bahwa pacaran itu bukan mainan.
Budaya Itu Apa Sih?
“Selamatkan Budaya Indonesia.” seruan itu dengan serempak dan berurutan menyeruak ke seluruh penjuru Indonesia, dan hasilnya adalah pemulihan identitas dengan pembudayaan BATIK disegala aspek, juga pengklaiman ulang REOK PONOROGO, TARI PENDET, dsb. Masih belum puas dengan itu? Tokoh-tokoh wayang dan dongeng diangkat ke layar kaca dan bahkan ditampilkan sebagai karakter animasi layaknya superhero Negeri Paman Sam. Fenomena yang sepertinya sebagai tamparan keras pada Indonesia yang pada periode sebelumnya menjadi latah budaya asing ini, bisa dibilang adalah sebuah reposisi yang sangat baik, setelah jaman Mantan Presiden Soekarno tentang kebijakan penghapusan jejak kolonial di Tanah Air ini.
Tapi yang membuat saya cemas adalah, apakah ini akan bertahan lama? apakah ini ide yang muncul musiman saja? Apakah kebudayaan itu hanya sebatas apa yang bisa dilihat mata? Mengutip salah satu penulis, bahwa orang Indonesia sangatlah berlebihan menggembor-gemborkan batik seperti orang Jepang menggembor-gemborkan kimono. Kalau jepang, tentu saja mereka pantas, karena sudah wajib mereka menggunakan kimono diberbagai acara dan upacara. Jadi tidak bisa diukur dengan ukuran yang sama dengan Indonesia. Buktinya orang Amerika yang celana Jeans-nya dipakai semua orang di dunia ini biasa-biasa saja, itu berarti promosi budaya tidak perlu seperti negara-negara lainnya. Itu sih menurut saya.
Intinya adalah Budaya tidak terbatas pada apa yang dilihat mata saja. Mempromosikan budaya seperti yang sudah saya sebutkan seperti diatas itu biasa-biasa saja, tetapi setelah itu mengadopsi budaya asing yang tidak kasat mata itu baru luar biasa. Misalnya, lebih menumbuhkan rasa ego-sentris daripada gotong royong. Persaingan boleh-boleh saja, tapi jangan lupa Indonesia terbentuk karena gotong-royong. Contoh lainnya, menyapa orang yang lebih tua di jalan saat berpas-pasan (Ini sepertinya yang sudah hilang). Waktu jaman saya SD di kampung dulu, hal ini masih merupakan hal wajib. Sekarang, anak SD di kampung sudah lebih tidak sopan daripada anak SD di kota saat berpas-pasan dengan orang yang lebih tua di jalan. Budaya seperti itu lah yang seharusnya dihidupkan kembali, Namun manusia cenderung melihat apa yang kelihatan padahal yang tidak kelihatan sebenarnya lebih abadi. Buktinya, banyak orang terkenal namanya lebih abadi daripada tubuhnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sebuah perkumpulan (forum) yang bernama forumwiken. Pada saat itu topik pembicaraannya adalah Ekonomi Modern vs Budaya Indonesia. Saat itu, mata saya baru terbuka tentang seberapa kaya dan beragamnya budaya kita. Dan setelah bertemu seorang seniman bernama Cok Sawitri. Beliau memperkenalkan pada kami sekilas mengenai budaya, yang adalah Ide suatu kemasyarakatan. Jadi yang dapat saya simpulkan adalah BATIK, REOK PONOROGO, TARI PENDET, dsb hanya merupakan produk dari budaya itu sendiri bukan budayanya. Sekali lagi, apa yang dilihat mata hanyalah sementara. Mulailah selamatkan budaya Indonesia yang ada di dalam diri anda. Ideologi Nusantara.
Indonesia, Dengan Sedih Aku Cintai
Sesungguhnya aku lupa apa itu merdeka,
sesungguhnya aku lupa kapan kita merdeka
Sudah berapa tahunkah kita merdeka?
Indonesia, masihkah kesatuan yang sama,
Indonesia, masihkah bermakna?
Indonesia, apakah bangsa apakah nama.
Indonesia, konstitusi tanpa makna yang berdiri lebih dari setengah abad lamanya, mungkin.
Indonesia, bunyi kesombongan pelipur lara yang gagah namun hilang di telan zaman, mungkin.
Indonesia, dengan sedih aku cintai.
Terinspirasi dari Bilangan Fu, oleh Ayu Utami
Aku Tidak Menangis
Matahari begitu menyengat kala ku injakan kaki melewati batas bayangan teras kantor Tata Usaha. Aku diijinkan pulang oleh sekolah karena berita yang seharusnya membuat ku pingsan atau menangis tersedu-sedu. Setidaknya orang normal akan melakukannya, tapi bukan aku.
Usiaku belum genap 15 tahun. Satu minggu ke depan kami akan menjalani ujian akhir sekolah yang sedang ramai diperbincangkan anak kelas akhir setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Aku, Rian, tidak pintar dan tidak juga terhitung bodoh bagi teman-teman seangkatanku. Seorang remaja yang kini yatim piatu.
Aku berjalan dalam kehampaan yang terasa begitu lama. Jarak sekolah dan rumah pun terbilang jauh, sehingga membantu ku mencerna semua perkataan guruku tadi. Panas masih menyengat, namun aku sudah terbiasa berjalan bermandikan peluh di siang bolong. Tapi kali ini berbeda, aku menikmatinya. Menikmati kesakitan yang belum pernah terbayangkan olehku. Ayah baru saja pergi, menyusul Ibu yang hampir hilang dalam ingatanku.
Aku akan menceritakan saat Ibu meninggal dulu, suatu saat yang mengesankan. Pada waktu itu, aku ingat bagaimana sosok Ayah yang tegar menangisi belahan jiwanya. Ayah adalah pria tegar, puluhan tahun mengabdikan diri pada Kesatuan Kepolisian Republik Indonesia, membentuk karakternya menjadi seorang yang tegas dan kuat. Tetapi Ayah yang ku ingat pada saat itu bukanlah Ayah yang biasa. Ayah yang selama ini terpatri dalam ingatanku sebagai laki-laki yang kuat, hilang sama sekali. Aku belum bisa mengerti rasa kehilangan ditinggalkan pada waktu itu. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti kepergian Ibu. Tapi Ayah, dia berbeda. Dia tak peduli pada gambar pria tegas yang tertempel padanya. Ayah kehilangan Ibu saat itu. Dia pun kehilangan dirinya sebagai Ayah, sebagai pemimpin keluarga. Dia ingin menjadi suami, menikmati kesakitannya sebagai seorang pribadi yang separuh jiwanya telah pergi.
Berbeda denganku kini. Aku tak menangis. Aku kuat. Aku laki-laki, dan laki-laki pantang menangis. Itulah yang Ayah ajarkan padaku.
Semua orang menghampiri ku ketika tiba di rumah. Satu persatu pelukan di hempaskannya pada ku. Tubuhku masam, namun tak ada yang menghiraukannya saat itu. Sedangkan aku, biasa saja, tidak sedikitpun ku tunjukkan wajah sedih di depan mereka. Karena aku laki-laki dan laki-laki pantang menangis. Itulah yang Ayah ajarkan padaku.
Aku pun ingat saat pertama kali di tampar olehnya. Rasanya seperti hampa dan perih yang datang bersamaan ketika momen pipi dan telapak berbenturan. Kejadian itu terjadi hanya sepersekian detik, namun setelahnya hanya perih yang tersisa.
Lalu beberapa menit kemudian, pipiku menebal merah berbercak tangannya.
Seketika setelah tamparannya, aku menangis tapi bukan menjerit seperti halnya anak 8 tahun yang diperlakukan seperti seorang anggota polisi. Hanya air mata yang keluar, tak satupun geraman. Sesegara itu pula dirinya merenggut kerah bajuku, mendekatkan wajahku padanya dan menatap ku tajam penuh kemarahan. “Kamu laki-laki,” Katanya dengan nada tegas. “laki-laki pantang menangis.” Lanjutnya.
Tapi Ayah, sungguh lucu dirimu. Kamu menangis atas kepergian Ibu. Kamu laki-laki, dan laki-laki pantang menangis. Kamu sendiri yang mengajarkannya padaku.
Aku pun berbenah diri setelah air mata dan jeritan keluargaku dalam beberapa pelukan tadi. Aku kesal sebenarnya. Ayah tidak akan melihat ku berganti seragam putih abu-abu. Tidak memberiku selamat ketika kartu kelulusan ada di genggamanku. Siapa yang akan hadir dalam upacara penerimaan ijazah nanti? Siapa yang akan menjadi wali? Aku sebatang kara. Aku yatim piatu kini.
Aku pun teringat sebuah pepatah, “Kita tidak akan tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya.” Dan kehilangan itu terasa kini. Ternyata aku mencintainya, ingin terus memilikinya walau pernah membencinya karena keras pada ku.
Lalu saat itu, ketika diriku mendekat pada peti di hadapanku, tampak tubuhnya terbujur kaku. Pria tegarku, Ayahku, dia di situ sama seperti Ibu dulu. Sekarang aku mengerti bagaimana perasanmu dulu. Laki-laki pantang menangis, ya aku mengerti itu. Dan yang Ayah lakukan saat kepergian Ibu pun ku mengerti kini. Itu bukan tangisan, itu ucapan perpisahan seorang suami pada istrinya. Karena tangisan adalah penyelesalan, aku tak melihat itu pada mata Ayah. Karena tangisan adalah kekecewaan, aku tak melihat itu pada mata Ayah. Karena tangisan adalah kelemahan, aku tak melihat itu pada mata Ayah. Karena tangisan adalah kesakitan, aku tak melihat itu pada mata Ayah. Karena tangisan adalah kemarahan, aku tak melihat itu pada mata Ayah. Karena yang ku lihat pada mata Ayah adalah cinta. Sehingga Ayah tidak menangis saat itu, dan aku juga tidak akan menangis kini. Sekarang aku mengerti maksudmu, dan aku tidak akan pernah menangis lagi.
Sediakan Mantel Setelah Hujan
Ada pepatah mengatakan "Sediakan mantel setelah hujan." (nah loh), bukannya "Sediakan payung sebelum hujan?". Hehehe... betul sekali. Sediakan payung sebelum hujan adalah pepatah yang bisa berarti persiapkan diri untuk hal yang buruk, atau bisa juga siap siaga, dan sebagainya.
Namun suatu ketika, saat itu gw sedang jalan-jalan dengan motor kesayangan gw. Waktu itu baru aja selesai hujan, dan karena males untuk berhenti untuk lepas Mantel hujan - yang sejak tadi sudah menempel - dari badan gw, akhirnya tetep aja gw jalan pake tuh mantel kayak badut di atas odong-odong. Saat lewat Kalibata, ada sebuah mobil sedan sialan yang ngebut dari arah belakang gw dan "Cprattt...." gw kena tempias air comberan. * langsung angkat mid-finger ke whoever the driver *
Untung aja saat itu gw ga ngelepas mantel gw, kalo ga setelan gw udah basah dan bau comberan. Dan hikmat yang dapat gw petik di sini adalah jangan senang dulu kalo hujan sudah lewat. Karena walaupun hujan sudah lewat, kemungkinan kita untuk basah juga tetap ada. Sediakan payung sebelum hujan adalah peribahasa yang mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dan ga boleh takabur. Namun peribahasa (ciptaan gw) sediakan mantel setelah hujan mengingatkan bahwa walaupun bahaya telah lewat jangan juga langsung senang dan merasa aman, tapi harus tetap waspada alias jangan langsung melonggarkan kesiagaan sedikitpun.
Suatu saat cewek gw sakit perut yang bikin dia akhirnya masuk UGD (sorry hun). Semua orang terdekatnya langsung aja ngomelin dia yang intinya "sediakan payung sebelum hujan" karena penyakit itu lebih baik dicegah dari pada diobati. Singkat cerita dia akhirnya sembuh dan bisa ke kampus lagi. Tapi belum aja beberapa hari sembuh, dia udah minum jus sirsak, dan sakit lagi deh dia. Cewek gw tahu bahwa hujan (penyakit.red) yang dia alami itu sudah lewat. Memang dia akhirnya kehujanan (sakit.red) karena gak pake payung (pencegahan.red), lalu setelah masuk UGD dan hujannya reda (sembuh.red) dia bisa aja gitu langsung senang ga kehujanan lagi (sakit lagi.red) dan dengan bisa seenaknya mengonsumsi semua hal?
Intinya. Kita bukan saja harus berjaga-jaga sebelum hal buruk terjadi. Tapi setelah hal buruk terjadi pun kita harus tetap berjaga-jaga.
Don’t Get Distracted
Well, apparently I'd write a lot (blogs) in this month and forget the main issue that almost bring my mind down "Get a job". Tapi gw bener-bener suka nulis dan menulis dan menulis dan menulis. Ga tau kenapa saat menulis itu bisa bikin gw lebih rileks dan santai. Menulis bikin gw jadi kreatif, bikin gw jadi pengen tahu banyak hal yang tadinya gw masa bodoh sama itu. Menulis bikin gw ketemu siapa itu gw.
First Video Blog Evaaaarr
Hi Kelinci Madu (Maksudnya honey bunny
).. This post I represent especially to you as my promised. Videonya aku rekam pake kamera laptop jadi agak buram, sebelumnya aku rekam pake kamera Nikon DSLR D5000 aku (Tercium kesembongan di penjabaran itu.) which is jauh lebih baik kualitasnya dari yang ini, tapi sayangnya ga tau ke mana. Entah udah di hapus sama nyokap atau memory card kameranya yang keganti (Atau aku hilangin). Jadi aku rekam ulang deh.
Took at 06.00 AM this morning. Hope you enjoy it!!!
And this is the bloopers, which is the first video (that I mention above) I made but failed to launched after all. Cuma 20 detik yang keambil, padahal aku rekamnya 2 menit.
XOXO
Mata Giok – Bagian 3
Fatur berlari menuju beranda lapangan tengah. Lalu berbelok ke utara. Lurus menuju patung singa yang sedang menganga. Sepuluh meter sebelum mencapai patung tersebut, kemudian berbelok ke arah barat. Lalu berhenti dan mencari di antara lalu lalang yang melintas.